Kamis, 12 Mei 2016

Berobat THT di Island Hospital Penang


Setelah memesan tiket Medan-Penang by Air Asia, saya pun segera mencari hotel tempat menginap selama di Penang.
Berhubung ini pengalaman pertama saya berangkat ke penang, saya searching2 dulu di mbah google soal penginapan dekat Island Hospital.
Dari pengalaman para Blogger dan Traveler yang pernah ke sana, akhirnya saya dapatkan penginapan bernama YMCA Hostel. Letaknya persis di seberang Island Hospital, cuma agak ke kirinya Island dikit aja.
Saya pun memesan kamar untuk 2 malam disana untuk saya dan istri. Budget-nya waktu itu adalah sekitar 300 ribuan rupiah per malamnya (saya pesan dari Traveloka).

Berobat di Island Hospital.
Banyak rumah sakit di penang. Ada Lam Wah Ee, Loh Guan Lye, Adventist, Pulau Pinang dan Island Hospital. Tetapi saya akhirnya memilih Island Hospital karena berdasarkan penelurusan saya di website masing2 rumah sakit, di sini termasuk yang lumayan lengkap dokter spesialisnya untuk keluhan yang saya derita. 90% pasien di sini katanya adalah orang Indonesia, terutama orang Medan. Pengalaman saya pun mengatakan demikian, karena mudah sekali saya menemukan orang Indonesia di RS ini. Serasa di negara sendiri jadinya. hohoho...

Kalau pertama kali datang ke RS ini, sebaiknya jam 6 pagi waktu setempat. Karena bisa ambil nomor antrian yang lebih awal (nomor = nombor, dalam bahasa Penang). RS buka jam 7 pagi waktu penang. Ohya, waktu di Penang lebih cepat 1 jam dibandingkan WIB-nya Indonesia. Jangan lupa bawa paspor karena bakalan dipergunakan untuk proses pendaftaran kita.
Setelah ambil nomor antrian jam 6 pagi, saya kembali lagi ke hotel. Lumayan menunggu 1 jam sampai jam 7 bisa tidur2 sebentar. Ini nih enaknya kalau hotelnya dekat RS hehehe... Jam 7 pagi saya kembali ke Island. Saya tanya customer service (CS)-nya di desk Customer Service, kemana dan bagaimana prosesnya, dikasitau deh alur2nya. CS2 di Island menurut saya cukup ramah (kalau tidak bisa dibilang sangat ramah). Tanya apa aja, mereka jawab dengan senyum (dan sabar tentunya), bahkan untuk pertanyaan berulang pun mereka tetap jawab dengan ramah Hehe...
Selesai proses pendaftaran, saya pun antri di depan ruang praktek dokter. (Jadi di Island ini kita 2 kali antri. Yang pertama antri nomor registrasi di customer service. Yang kedua antri di dokter masing2.).
Dokter saya kali ini bernama Mr. Phang Wee Keong (kalau gak salah tulis ya. Hehe) spesialis THT yang sudah cukup beruban, eh, senior menurut saya (dan menurut CS-nya Island). Dokternya cukup ramah dengerin “curhat” saya. Tidak terburu-buru menentukan saya sakit ini-itu. Beliau bertanya dengan sabar mengenai keluhan2 saya apa saja. Terus karena beliau masih ragu, disuruh deh saya ke Laboratorium THT (ENT laboratory). Selesai cek di lab, saya dipanggil kembali masuk ke ruangan dokter. Beliau diagnosa bla..bla..bla.. jrengg akhirnya dikasilah saya obat dan disuruh datang lagi 6 bulan kemudian. (lama ya hehe..). Obatnya hanya 2 jenis saja dan jika habis dan keluhan alergi saya masih ada, boleh dibeli di indonesia alias cari sendiri katanya (dokternya nggak jualan obat berarti. hehe...)
Overall, saya puas dengan pelayanan di Island Hospital, ramah, jelas, tidak bertele-tele dan good listener. Total saya habiskan sekitar 770-an ringgit untuk berobat kali ini, sudah termasuk honor dokter, obat, dan tes laboratorium.

YMCA Hostel.
Sebenarnya terdapat banyak penginapan di Penang, mulai dari hotel mewah sampai homestay.
Akan tetapi saya memilih YMCA karena kemudahan akses ke Island Hospital, hanya berjalan kaki ke seberangnya saja dan karena baru pertama kali datang berobat ke Island.
Kelemahannya menginap di sini adalah:
1. Akses yang jauh ke tempat makan (kemarin saya berjalan kaki sekitar 7 menit untuk mencari tempat makan siang)
2. Lokasinya berada di daerah perkantoran, yang sunyi. Sehingga kalau malam cukup sepi.
3. Kamar standar, tidak ada kulkasnya.
Untuk yang muslim, saya tidak tahu apakah di sini disediakan halal food atau tidak, mengingat YMCA itu sendiri adalah hotel yang katanya dimiliki oleh non muslim. Saya sarapan dan makan siang biasanya di kantin Island Hospital yang buka sampai jam 6 sore yang menyediakan halal food, karena memang dari pagi sampai siang di rumah sakit terus untuk berobat.
Untuk makan malam, saya berjalan ke arah rumah sakit Loh Guan Lye, sekitar 7 menit jalan kaki dari YMCA, ada warung nasi kandar (nasi khas Penang), yang punya muslim keturunan india. Namanya rumah makannya: Bistro. Habis sekitar 3 ringgit per porsinya, belum termasuk minum.
Sekedar saran, jika takut berjalan sendirian malam hari, lebih baik membeli makan malamnya di sore hari saja. Karena daerah Island Hospital dan YMCA ini adalah daerah sepi, karena bukan daerah pemukiman. Memang belum pernah ada laporan kejahatan, cuma kan buat jaga-jaga aja karena di negeri orang. hehehe...

Transportasi di Penang.
Dari bandara international Penang kita dapat menggunakan beberapa moda transportasi ke Island Hospital atau YMCA:
1. Menggunakan bus jemputan dari rumah sakit. Ini tentunya harus dikonfirmasi dahulu ke pihak Island-nya supaya mereka prepare. Dan ini khusus untuk pasien yang dari bandara langsung berobat ke RS, tidak singgah ke hotel dahulu.
2. Menggunakan Taksi. Taksi di Penang, mayoritas tidak pakai argo. Jadi mengenai tarif biasanya tawar-menawar. Dari bandara ke Island Hospital atau YMCA dan sebaliknya biasanya tarifnya 50 ringgit per sekali jalan. Silahkan dirupiahkan sendiri deh. hehe..
3. Menggunakan bus jemputan dari hotel/tempat penginapan. Kalau ini tergantung masing2 penginapan apakah disediakan fasilitas ini atau tidak, dan apakah dikenakan tambahan biaya atau tidak.
4. Menggunakan Trans Jakartanya Penang, yaitu: Rapid Penang Bus (Bus = Bas, dalam bahasa Penang). Saya menggunakan ini. Soal harga jauh lebih murah dari Taksi. tetapi waktu tempuh pasti lebih lama sedikit karena ada jeda menaikkan-menurunkan penumpang di halte yang disinggahi.
Dari bandara saya naik bas, eh bus nomor 102. Bus ini tujuannya ke Komtar (Komplek Tun Abdul Razak). Komtar ini kalau di Medan seperti Sambu, ada pasarnya, ada mall-nya (Perangin Mall namanya kalau di Penang), ada terminal busnya. Semua Bus Rapid Penang kumpulnya ya di Komtar ini. Jadi dari Komtar ini ada aja jurusan bus ke segala penjuru Penang.
Lanjut deh, dari bandara ke Komtar ini saya habis sekitar 3 ringgit. Nah, dari Komtar ke Island Hospital, saya naik bus nomor 10 dengan ongkos sekitar 3 ringgit. Jadi total ongkos saya sekitar 6 ringgit dari bandara ke Island/YMCA. Jauh lebih murah dibandingkan Taksi bukan?
Soal kenyamanan, bus ini cukup nyaman. Ada AC dan bersih. Kursi tempat duduk sekitar 25 buah dan "kursi berdiri" sekitar 30. Tetapi tetap waspada copet ya (begitu tulisan di kaca busnya. hehehe...)
Ohya, bus ini bayarnya di depan ya. Alias begitu kita naik ke pintu busnya, nanti supirnya menanyakan tujuan kita dan baru kemudian menyebutkan tarif yang harus kita bayar. Setelah bayar, baru kita duduk.
Sediakan uang kecil, pecahan 1 ringgit, kalau mau menggunakan moda transportasi ini. Karena kalau uang kita uang besar, GAK AKAN dikasi kembaliannya lagi karena uangnya dimasukin ke celengan/kas bus. 
Bus ini hanya berhenti di halte-halte nya saja, tidak di sembarang tempat. Jadi jika menggunakan bus ini, harus diperhatikan halte pemberhentian terdekat dengan tujuan kita.
Tetapi kemarin sewaktu ke Island Hospital dari Komtar, supirnya menurunkan saya tepat di depan Island Hospital, padahal tidak ada halte bus di situ. Entah karena sudah sore, atau karena penumpangnya sedang sedikit, atau karena tidak ada polisi, atau karena kasihan dengan saya selaku pasien (hehehe..), bisa dibilang saya beruntung hari itu, karena halte terdekat dengan Island Hospital sekitar 5 menit berjalan kaki.

Bahasa di Penang.
Semua komunikasi di Penang menurut yang saya lihat menggunakan bahasa Melayu, Hokkian, India (atau tamil?) dan Inggris.
Jika tidak bisa bahasa Hokkian atau Inggris, jangan takut. Karena bahasa Melayu masih sepupuan dengan Bahasa Indonesia, alias kita masih ngerti dengan apa yang mereka katakan dan mereka juga masih mengerti dengan yang kita katakan.
Selama komunikasi dengan pihak Island Hospital (Customer Service, Perawat, Dokter, Petugas Farmasi), saya menggunakan gabungan bahasa Indonesia dan Inggris. Kenapa Inggris? Berjaga-jaga manatahu ada kata-kata di bahasa Indonesia yang mereka tidak mengerti, bisa dibahasa-inggris-kan. Kalau bahasa inggris kan bahasa internasional, mereka pasti tahu. hehehe...

Well, sekian dulu cerita-ceritanya. Semoga bisa sedikit membantu bagi yang mau pergi berobat ke Penang.


Selasa, 26 April 2011

Pajak dan Negara Vampire

Sahabat saya punya teman. Orang pajak. Sahabat saya yang baru tiga bulan kembali dari Australia itu berniat beli rumah cukup besar di kompleks perumahan mewah di pinggiran Jakarta. Cash, tidak kredit. Orang pajak itu memberi advis. Katanya, pakai kredit saja, pajaknya lebih kecil, kalau cash pajaknya jauh lebih besar.

Logika yang dipakai, kata orang pajak tadi, kalau beli kredit maka negara menganggap kita tidak mampu, tapi kalau beli cash maka negara menganggap kita orang mampu dan besaran pajaknya pun jauh lebih besar.

Sahabat saya protes. Lha, waktu usahanya bangkrut waktu krisis 1998, negara tidak mau membantunya. Sejumlah proposal permintaan kredit yang diajukannya untuk modal usaha ke berbagai bank pemerintah ditolak. Anaknya yang terancam putus sekolah pun tidak mendapat bantuan apa pun dari pemerintah. Akhirnya dia pinjam uang dari sana-sini dan hijrah ke Australia untuk memulai usaha di sana. Meninggalkan anak isterinya selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya dia “bisa bernafas kembali”. Ketika usahanya sudah stabil di negeri orang, barulah dia kembali ke Jakarta.

“Negara ini tidak pernah membantu saya. Negara ini tidak pernah membuat saya pintar. Untuk menyekolahkan anak agar pintar, saya harus merogoh kocek dalam-dalam. Jika sakit, saya juga harus membayar dokter dan membeli obat dengan harga premium. Namun ketika usaha saya berhasil, atas kerja keras sendiri, tentunya dengan izin Allah, negara ini dengan seenaknya mau minta uang pada saya dalam bentuk pajak. Apa bedanya negara ini dengan tukang palak? Indonesia sekarang ini sudah jadi Vampire State, yang hidup dengan menghisap darah rakyatnya sendiri!”

Orang pajak tadi terdiam. Mungkin dalam hatinya dia mengamini pernyataan temannya itu. Sebagai “orang dalam”, walau statusnya hanya pegawai rendahan, dia tahu betul kekotoran apa yang terjadi di dalam institusi tempatnya bekerja. Dia yakin, apa yang terjadi di institusinya hanyalah sebuah miniatur dari kenyataan yang jauh lebih parah dan massif yang terjadi di semua strata birokrat negeri ini, dari tingkat Kepala RT, RW, Lurah, Camat, Walikota, sampai anggota DPR dan Presiden.

Sahabat saya yang lain, baru saja membeli sebidang tanah di Bekasi, tidak begitu besar. Dia bercerita bahwa untuk membeli tanah saja dia harus nyetor uang ke sana-sini, dari Pak RT sampai pejabat di atasnya. Belum lagi untuk mengurus aktenya. Dan ketika di atas tanah tersebut dia ingin membangun rumah kontrakkan atas namanya sendiri, dia kembali harus menyetor sejumlah dana ke pihak yang sama.

“Pak RT saja sampai minta satu juta rupiah,” keluhnya. “Padahal itu tanah milik saya, saya juga membangun dengan uang saya sendiri, kenapa mereka minta bagian?” keluhnya. Dia juga mempertanyakan dasar diadakannya IMB (Izin Mendirikan Bangunan). Dia bilang buat apa minta izin, harus membayar uang pula, padahal dia membangun di tanahnya sendiri, bukan di tanah orang lain apalagi tanah pemerintah.

Kedua sahabat saya itu bukan orang bodoh, walau belum bergelar profesor, karena semua gelar di negeri ini bisa dibeli dengan harga yang tidak terlalu mahal. Mereka gila baca buku, berpikiran kritis, dan pekeja keras. Mereka tahu benar hakikat dan filosofi pajak. Mereka tahu kalau IMB itu sebenarnya hanya salah satu trik dari pemerintah daerah untuk memenuhi pundi kas daerahnya.

Welfare State Versus Negara Vampir

Konstitusi negara mengamanahkan negara agar mengayomi, melindungi, dan memenuhi hak-hak rakyatnya. Bagi anak-anak tidak mampu, negara wajib memeliharanya. Bagi orang miskin, negara wajib menyantuninya. Negara juga wajib menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya, wajib menggunakan seluruh kekayaan alam negeri yang ada semata-mata untuk mensejahterakan rakyatnya, wajib memberikan rasa aman, wajib melindungi rakyatnya dari apa pun juga. Ini semua termaktub dengan jelas di dalam konstitusi negara.

Di dalam konstitusinya, Indonesia menginginkan menjadi sebuah negara berkesejahteraan (Welfare State). Untuk bekerja demi memenuhi semua hak-hak dasar rakyat inilah, negara memerlukan biaya. Salah satunya dari pajak yang merupakan suatu elemen terpenting untuk kepentingan penyejahteraan rakyat. Dengan membayar pajak, rakyat akan mendapatkan fasilitas publik yang memadai seperti pendidikan gratis, kesehatan gratis, pangan dan sandang yang murah, serta tunjangan sosial bagi mereka yang tidak mampu.

Dengan pajak, orang Jerman bisa memperoleh pendidikan gratis, orang Inggris bisa menikmati biaya rumah sakit dan pengobatan gratis, lalu di beberapa negara federal Amerika orang bisa bertelepon-ria tanpa dipungut biaya, dan di banyak negara Eropa ada tunjangan sosial bagi orang jompo, orang cacat, dan pengangguran.

Di Indonesia, semuanya harus bayar. Bahkan untuk pipis saja pun dikenakan biaya. Hanya tertawa dan—maaf—kentut yang belum dikenai pajak di negara ini.

Mungkin saja ada yang mengemukakan dalih jika pajak kita masih terlalu kecil dibandingkan dengan pajak di negara-negara yang telah sejahtera. Namun, bila dilihat realita yang ada, alasan itu tidaklah benar. PPN di negara Eropa, misalnya, sesuai dengan proposal European Union, dipatok hanya 14-20%. Di Inggris hanya 17,5%, tidak jauh berbeda dengan di Indonesia.

Namun dengan pajak sebesar itu, mereka bisa memberikan fasilitas publik yang sangat memuaskan. Negara-negara tersebut, yang kekayaan alamnya tidak sedahsyat Indonesia, mampu memberikan layanan publik sangat baik dengan hanya menarik pajak yang tidak terlalu banyak selisihnya dengan yang ditarik oleh pemerintah Indonesia.

Di Indonesia, semua orang dikenakan pajak. Kian hari pajak kian tinggi. Sama seperti retribusi jalan tol yang kian hari kian besar, padahal kenyataannya, jalan tol kian hari kian macet, dan pemeliharaannya pun kian memprihatinkan. Di Indonesia, hanya pejabatnya yang hidup kian sejahtera, mendapat fasilitas mewah, gaji dan tunjangan besar, anggota DPR-nya pelesiran ke luar negeri bersama anak isteri, semuanya dibiayai dari uang pajak (baca: merampok rakyat). Namun fasilitas umum dan tunjangan sosial bagi rakyat nihil. BAhkan banyak dari sektor yang sebenarnya hak milik rakyat malah diswastanisasikan.

Salman Luthan dan Agus Triyanta, dosen Fakultas Hukum dan Magister Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta, dalam Jawa Pos (11/10/2005) menulis dengan cukup tajam masalah pajak di negeri ini, “Apa bedanya antara perampok dan negara? Keduanya sama-sama mengisap uang rakyat. Keduanya sama-sama bisa memaksa rakyat. Jika perampok adalah orang atau sekelompok orang yang mengambil kekayaan orang lain untuk diri mereka, negara terdiri atas kelompok orang yang mengambil pajak dari rakyat untuk kepentingan rakyat itu sendiri, atau minimal untuk kepentingan bersama. Logikanya, jika rakyat diisap kekayaannya lewat berbagai pajak dan pungutan, terpaksa atau tidak terpaksa, dan kemudian uang tersebut oleh negara tidak dikembalikan kembali kepada rakyat, niscaya negara itu juga sama saja dengan perampok, yaitu perampok yang terorganisasi.”

Di negara vampir seperti Indonesia sekarang ini, pajak hanya digunakan untuk memperkaya sebagian golongan yang berkuasa. Padahal mereka juga memperkosa kekayaan sumber daya alamnya. Indonesia yang sekarang dikuasai oleh orang-orang rakus dan serakah bermental korup ini memang harus didekontsruksi ulang. Rakyat harus bangkit dan bergerak melindas mereka semua.

Mungkin sebab itu, Islam mengharamkan pajak. Hal ini pernah ditegaskan Dr. Daud Rasyid dalam suatu kajian keislaman di Jakarta beberapa tahun lalu. Islam membangun negerinya bukan dengan pajak, tetapi dengan kekayaan alam yang dimiliki dan dengan usaha yang penuh keberkahan. Wallahu’alam bishawab. [rz]

Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/analisa/pajak-dan-negara-vampire.htm